Twit Ulama dari @ibrahim_alfares

Di antara perkataan yang Indah,
“Tidaklah ada senjata yang sangat
ampuh bagi syaitan untuk manusia
melainkan perasaan takut miskin,
jika takut miskin ini sudah bercokol
di hati, dia kan terhalang dari
kebenaran, dia kan berbicara
dengan hawa nafsu, dan dia kan
berburuk sangka kepada
Allah” (Sofyan Ats Tsauri)
@ibrahim_alfares – Dr Ibrahim al
Faaris Dosen jurusan Tarbiyah di
Universitas Malik Su’ud KSA,
spesialis bidang madzhab
kontemporer.

Advertisements

Twit Ulama dari @abdulaziztarefe

Salah satu hal yang memperlemah iman adalah bila membuat orang lain senang dengan menyebar aib seseorang agar aibnya sendiri tertutupi, dan salah satu hal yang dapat memperkuat iman adalah berhusnuzzhan (berbaik sangka) atas orang lain walaupun orang itu memiliki aib.

@abdulaziztarefe – Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi, Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi

disadur dari http://twitulama.tumblr.com/post/33216886759/salah-satu-hal-yang-memperlemah-iman-adalah-bila

Twit Ulama dari @DrAAljassar

Di antara musibah yang besar yang menimpa umat Islam adalah ketika kehormatan Nabi kita yang mulia dijatuhkan. Akan tetapi, bersamaan dengan itu Allah berfirman, “Jangan engkau kira itu buruk bagimu, bahkan itu baik bagimu” (an Nur: 11)

@DrAAljassar – Dr Ahmad Hammud al Jassar Imam dan Khotib di Masjid Kuwait, Ketua Dewan Pembina Lembaga Studi Quran di Kuwait, Doktor Teknik Sipil di Universitas Kuwait

 

disadur dari http://twitulama.tumblr.com/post/34060894963/di-antara-musibah-yang-besar-yang-menimpa-umat

Muslim Idol

Sobat Tashfiyah,

Kamu pasti punya idola, ya kan? Entah itu bunda kamu, ayah kamu, teman kamu, guru, atau idola-idola yang lain. Bagus sih kalau yang dijadikan idola orang yang baik untuk diambil sisi kebaikannya. Lah, kalau yang dijadikan idola malah orang-orang yang nggak genah (boleh kamu baca: nggak normal)?

Adalah biasa seorang insan memiliki idola. Positifnya punya idola, kamu bisa menjadikan dia sebagai batu loncatan buat kemajuan kamu. Kalau misalnya idola kamu orang yang cerdas, biasanya kamu tergugah untuk menjadi orang cerdas juga. Kalau idola kamu orang yang sukses, kamu juga terlecut untuk sukses.

Segi negatifnya, kamu meniru idolamu terus kamu jadikan sebagai tolok ukur benar atau salah. Idola kamu ngomongnya A, ya kamu juga ngomong A, kalau ada yang ngomong B kamu nggak terima. Nah, ini yang berbahaya. Coba kalau doi si idola adalah jagoan ngebor, fans beratnya nggak akan tanggung-tanggung membuat fans club membela si idola. Kalau ada masyarakat yang nggak setuju dengan proyek ngebornya -padahal jelas-jelas ini merusak moral bangsa- para fans siap menjadi benteng pertama bagi si idola. Nggak urusan sama moral bangsa yang terancam.

Contoh lain, kalau sang idola masuk bui gara-gara kasus amoral, rela deh menyempatkan waktu menjenguk sang idola ke Rutan untuk menyatakan sokongan. Padahal, kelakuannya bisa merusak moral anak bangsa. Spanduk “Free for Sang Idola” pun terpampang memberi dukungan kepada sang idola ini, tanpa melihat kesalahan yang dia perbuat.

Belum lagi mengumpulkan pernak-pernik sang idola, mulai dari gantungan kunci sampai ke gadget-gadget khas sang idola. Meniru potongan rambut, style pakaian, bahkangaya bicaranya dibuat semirip mungkin dengan idola.

Pilih Idolamu

Nah, dari apa yang dijelaskan di atas, makanya kamu perlu memilih idola kamu.
Jangan sampai, besok kamu menyesal seperti orang-orang yang Allah sebutkan dalam Al-Quran ini (artinya), “Duhai, andaikan aku tidak menjadikan Fulan sebagai seorang kekasih. Dia telah menyesatkan aku dari peringatan (yakni Al-Quran) setelah datangnya kepadaku.” [Q.S. Al-Furqan:28].

Terus siapa dong yang cocok jadi idola? Coba deh simak Ibnu Umar c bertutur, “Barangsiapa ingin mengikuti, hendaknya dia mengikuti yang telah mati karena yang masih hidup tidak aman untuk terjatuh ke dalam godaan (kesesatan, red.). Mereka (yang pantas diikuti itu, red.) adalah para sahabat Muhammad `. Mereka adalah yang terbaik dari umat ini. Mereka yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit memberta-beratkan diri dari umat ini. Mereka adalah kaum yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya ` dan menyampaikan agama-Nya. Maka tirulah akhlak dan jalan mereka. Mereka, para sahabat Muhammad ` , berada di atas petunjuk yang lurus.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` dari Ibnu Umar c,, diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih dari Ibnu Mas’ud z].

Pilih aja, Ali bin Abi Thalib z, sang pemuda yang masuk Islam pertama kali. Atau, Ibnu Abbas c pemuda yang jenius masalah syariat. Kalau nggak, boleh juga Imam Syafi’i t yang hapal Al-Quran sebelum baligh. Atau, para ulama lainnya. Nggak perlu vote pakai SMS tarif premium kok. Tinggal ikuti aja mereka.

Lho, gimana mengikuti mereka, biografinya aja nggak tahu? Eits, jangan menyerah dulu deh. Gampang kok cari biografi mereka. Tinggal datang ke perpustakaan atau toko buku, cari aja buku tentang sahabat atau biografi para ulama besar, Insya Allah nama-nama mereka sudah terpampang di situ. Daripada mengikuti orang yang nggak jelas juntrungannya, kan mendingan mengikuti mereka yang jelas-jelas teruji.

Masuk ke Liang Dhabb

Tahu nggak binatang dhabb? Dhabb adalah binatang yang bentuknya mirip biawak. Cuma, kalau biawak hidupnya di air dan makan ikan, dhabb ini hidupnya di pasir dan makan serangga. Nah, dhabb ini kalau bikin sarang paaaanjaaang banget dan berliuk-liuk di dalam tanah.

Lho, kok bicara tentang dhabb, emang ada apa sih sama dhabb? Tenang aja, kita nggak bahas pelajaran biologi kok. Cuma begini sob, Rasulullah ` pernah bersabda dalam sebuah hadits melalui sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih karya mereka yang artinya, “Kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan kaum yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka memasuki liang dhabb, niscaya kalian juga akan memasukinya.” Kekecilan dong? Iya, pengap lagi. Makanya, jangan pernah masuk deh.

Hadits tadi adalah sebuah hadits yang mengungkapkan kepada kita betapa kita itu pasti akan mengikuti umat-umat lainnya (istilah kerennya: “tasyabbuh”). Rasulullah ` menggambarkan bahwa kita juga akan mengikuti mereka bahkan pada perkara yang detail, kecil, dan remeh sekalipun. Padahal, tasyabbuh dengan orang selain Islam itu nggak boleh lo. Coba deh dengerin sabda Rasulullah ` berikut ini, “Barangsiapa ber-tasyabbuh dengan suatu kaum, maka ia bagian darinya.” [H.R. Abu Dawud dan An-Nasa`i, “Hasan Shahih” kata Syaikh Al-Albani t]. Lha, kamukan Islam, masak mau dibilang termasuk dari golongan non-Islam?

Yang Terpilih Menjadi Idola Sejati Adalah…

Allah l telah mencanangkan idola wajib bagi kaum muslimin (catatan: yang dimaksud idola adalah TELADAN). Siapa sih idola itu? Baca aja firman Allah l berikut ini:

“Sungguh telah ada bagi kalian dalam diri Rasulullah teladan yang baik, yakni bagi yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” [Q.S. Al-Ahzab:21].

Nah, itu dia. Sang idola sejati adalah Rasulullah `, Rasul yang diutus kepada seluruh jin dan manusia, semua kalangan, tanpa membedakan suku, ras, strata sosial, atau kasta. Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dalam semua masalah keagamaan, mutlak tanpa tapi. Berbeda dengan orang selain beliau, para sahabat, tabi’in, ulama, semuanya kita ikuti kalau sesuai dengan Nabi `. Kalau nggak, nggak kita ikuti deh.

Begitulah Islam mengatur masalah idola mengidolakan. Makanya, jangan sembarangan pilih idola. Cari yang pasti-pasti aja. Allahu a’lam bish shawab

http://tashfiyah.net

disadur dari http://www.darussalaf.or.id/nasehat/muslim-idol/

Sumber-sumber Aqidah Yang Benar dan Manhaj Salaf dalam Mengambil Aqidah.

Kitab Tauhid 1

oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalam­nya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Oleh karena itu manhaj Salafus Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sun­nah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya dan men­gamalkannya. Sedangkan apayang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i’tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama’ah mereka juga satu.

Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, …” (Ali Imran: 103)

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang­siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah men­jadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab:
“Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku.” (HR. Ahmad)

Kebenaran sabda baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Kitab dan Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi maka ter­jadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

 

disadur dari http://belajar-tauhid.blogspot.com/2005/05/sumber-sumber-aqidah-yang-benar-dan.html

Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

Kitab Tauhid 1
oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Aqidah Secara Etimologi
Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Kalimat “Saya ber-i’tiqad begini” maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara’
Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari’at terbagi menjadi dua: i’tiqadiyah dan amaliyah.

I’tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i’tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri’tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far’iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i’tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i’tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya.” (Al-Kahfi: 110)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, …” (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi’tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da’i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

disadur dari http://belajar-tauhid.blogspot.com/2005/05/makna-aqidah-dan-urgensinya-sebagai.html

Jadikan Agenda Harian Anda

1. Shalat-shalat fardhu pada waktu-waktunya, dan berjamaah di masjid bagi laki-laki

2. Membaca dua lembar dari ayat-ayat al-Quran

3. Dzikir pagi dan petang dari buku “Hishnul Muslim” (oleh Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, sudah diterjemahkan)

4. Membaca beberapa hadits pada setiap harinya dari kitab “Riyadhush Shalihin” (oleh Imam an-Nawawi)

5. Bersedekah Rp. 1000 setiap hari, dan jika Anda memiliki keluarga, setiap orang bersedekah Rp. 1000
 
6. Hentikan kebiasaan berdusta dan menggunjing orang (ghibah)7. Setengah jam untuk berjalan (atau olah raga apa saja yang Anda sukai)

7. Profesional dalam pekerjaan Anda

8. Berpuasalah Senin dan Kamis, shalatlah dua rakaat Dhuha dan lakukan shalat Witir sebelum tidur

9. Maafkanlah kaum muslimin dan mohonkan ampun untuk mereka pada setiap harinya

——————–

Di hari-hari yang mulia ini, 10 hari di permulaan bulan Dzulhijjah, amal-amal shalih akan dilipatgandakan pahalanya.

Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini…
Lakukan sebanyak mungkin ibadah dan kebaikan apa saja yang Anda mampu dan harapkan ganjaran yang terbaik di sisi Allah…

Taqabbala_Llaahu minnaa wa minkum…

 
 
#note to my self