Muslim multi-tasking atau muslim mono-tasking ?

0x600

Sebelum kita mendiskusikan hal ini, marilah kita terlebih dahulu mengetahui definisi dari multi tasking dan mono -tasking. Menurut kamus bahasa inggris Universitas Cambridge, multi tasking adalah kemampuan seseorang untuk melakukan lebih dari  1 pekerjaan dalam 1 waktu. Sedangkan mono-tasking adalah melakukan 1 pekerjaan dalam 1 waktu.

Jika kita merenungi riwayat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu kita terpukau dengan keproduktifitasan beliau. Beliau adalah seorang nabi, seorang guru, seorang ayah, seorang teman, seorang suami, seorang pemimpin.  Begitu banyak peran dalam hidupnya , apakah rahasia keproduktifitasannya? apakah beliau seorang yang bekerja secara multi tasking? atau mono tasking ?

Professor Earl Miller, seorang neuroscientist dari Massachusetts institute of technology, melakukan penelitian terhadap otak beberapa tahun lepas, menyimpulkan bahwa otak manusia hanya bisa focus pada satu atau dua hal pada saat disugukan beberapa hal sekaligus. dengan kata lain, sebanyak apapun pekerjaan yang bisa kita lakukan dalam 1 waktu, hanya 1 atau 2 pekerjaan saja yang bisa mendapat perhatian secara menyeluruh.  Tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental, berpindah dari 1 tugas ke tugas  yang lain, bahkan menyebabkan kita bekerja kurang efisien.

Hebatnya suri tauladan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, secara tidak langsung telah mencontohkan kita untuk bekerja secara mono-tasking. Melalui kisah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ditemukan bukti bahwa nabi Muhammad melakukan multi-tasking. Beliau selalu focus secara penuh pada satu pekerjaan atau seseorang pada satu waktu. pada saat beliau solat, beliau konsentrasi penuh pada solatnya, pada saat beliau bersama keluarganya, beliau hadir secara fisik maupun mental, pada saat beliau berperang, beliau penuh dengan komitmennya membela agama Allah.

Sheikh Tawfique Chowdhury pada salah satu ceramahnya mengatakan “pernahkan kita mendengar istri-istri Rasulullah mengeluh bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cukup waktu bersama mereka? tentunya tidak, hal ini dikarenakan bahwa nabi Muhammad menghabiskan waktu secara berkualitas dengan keluarganya. Walaupun beliau sangat sibuk dengan banyaknya peran beliau, tapi beliau focus terhadap tugas-tugasnya secara tersendiri, dalam 1 waktu, dan pikiran beliau tidak terpecah pecah.

Jadi bagaimana mencapai mono-tasking dan bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan mono tasking ? productivemuslim.com memberikan beberapa kiat untuk bisa mono-tasking

1. Perhatian penuh

Sebelum kita melakukan sesuatu, mulailah dengan perhatian penuh .Terkadang kita melakukan sesuatu hal, tapi pikiran kita memikirkan pekerjaan yang lain, hal ini bisa dikatakan bahwa kita kurang mempunyai perhatian penuh terhadap tugas tersebut.  Perhatian penuh adalah langkah awal menuju produktifitas.

2. Hilangkan hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi

Jika kita akan membaca sesuatu, usahakan hanya ada diri kita dan buku tersebut. Jika kita ingin membaca email, tutup website-website lain dan hanya buka email kita. Jika kita makan, maka matikan computer dan televisi di depan kita.

3. Pilih berdasarkan prioritas

Jangan langsung melakukan suatu tugas, tapi berikan kesempatan diri kita untuk berpikir, apakah kita perlu melakukan dua tugas secara bersamman ? apakah kita memang perlu mengaktifkan handphone pada saat kita belajar? hal mana yang paling penting untuk dilakukan ?

4. Berusaha sekuat tenaga

Jika kita sedang beribadah, maka lakukanlah dengan konsentrasi penuh. lakukan segala daya dan upaya untuk melakukan aktifitas tersebut. Jika kita sedang melakukan percakapan, maka dengarkanlah secara seksama.

5. Latihan

Mono-tasking bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu satu hari, perlu latihan terus menerus. Tapi kita harus memulainya dari sekarang dari hal yang sekecil mungkin.

6. Tidak lupa berdoa ke Allah

Tentunya segala usaha kita tujukan kepada dan meminta ke Allah. Semoga dengan usaha untuk meningkatkan produktifitas ini, kita tidak menjadi orang yang rugi karena menyia-nyiakan umur dan waktu kita.

Penulis : Tri Pratiwi Handayani 

sumber : PengusahaMuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s