Adab Para Nabi Dalam Berkata

*Pelajaran dari surat al Kahfi

Ketika Khidr menjelaskan kepada Musa, maksud perbuatannya, maka Khidr mengatakan tentang kapal yang dirusaknya,
فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا
“maka aku ingin membuat cacat perahu tersebut” (al Kahfi: 79)

Ketika mengatakan tentang tembok hampir roboh yang dibangunnya di rumah 2 anak kecil, Khidir mengatakan
حًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا
“maka Tuhanmu ingin agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu” (al Kahfi: 82)

Maka lihat adabnya Khidr, keinginan untuk membuat cacat perahu, dia sandarkan pada dirinya sendiri. Namun keinginan agar kedua anak kecil tumbuh dewasa dan bisa mengeluarkan hartanya, dia sandarkan kepada Allah. Demikianlah, orang-orang besar beradab kepada siapapun juga bahkan yang kedudukannya lebih rendah darinya, apalagi kepada Rabbnya.
Hanya orang-orang picik saja yang kurang ajar kepada Rabbnya, menuduh aturan Allah menjadi sumber masalah dan malah menjadikan aturan manusia yang lemah akalnya ini menjadi aturan yang dipegang.

sumber: Amrullah Akadhinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s