Antara Aku dan Dia…

Antara aku dan dia…
Al-Qur’an dan musik…

Sebagian kaum muslimin menganggap bahwa musik adalah sebuah sarana untuk berda’wah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Benarkah ucapan tersebut?

Mari kita bahas satu persatu syubhat tersebut.

1. Jika mereka menganggap bahwa musik dan alat-alat musik adalah sebuah sarana untuk berda’wah lalu bagaimana kedudukan hadits tentang pengharaman musik dan alat-alat musik?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamar (minuman keras), dan alat-alat musik.”
(HR. Al-Bukhari, Fat-hul Baari, X/51, no. 5590, Ibnu Hibbaan, no. 6719, al-Baihaqi, X/221, dan Abu Dawud, no. 4039)

Hadits di atas menunjukkan bahwa hukum asal musik dan alat-alat musik adalah haram, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam katakan :

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang MENGHALALKAN kemaluan (zina), sutera, khamar (minuman keras), dan alat-alat musik.”

Berarti hukum asal musik dan alat-alat musik, adalah?

Haram.

2. Kemudian, anggaplah jika musik-musik Islami itu adalah sebuah sarana berda’wah lalu mengapa tidak dilakukan di tempat yang paling mulia untuk berda’wah semisal di masjid bernyanyi-nyanyi dan berjoget layaknya seperti tarian kaum Sufi?

3. Tidak ada khilaf (perbedaan) di antara para ulama tentang haramnya musik dan alat-alat musik baik berdasarkan nash dari Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan juga ijma’ para ulama kaum muslimin tentangnya.
Maka sebagai orang yang sehat akal dan agamanya tentu ia lebih memilih firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai landasan untuk beribadah kepada-Nya karena dengannya ia akan mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Renungan :
Saudaraku yang saya cintai karena Allah. Demi Allah saya sangat mencintai kalian dan takut kalian tersesat karena mengikuti hawa nafsu, oleh karenanya kewajiban saya ialah saling tolong-menolong dan nasihat menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan.

Tidak jarang di antara kita yang sedih atau bahkan sampai menangis ketika mendengarkan musik…

Lalu pernahkah kita menangis dan memikirkan serta merenung tentang kebesaran ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla ketika ayat suci al-Qur’anul Karim dibacakan kepada kita?

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal.”
(QS. Al-Anfal [8] : 2)

Hampir setiap jam, menit, detik atau bahkan setiap nafas kita selalu bernyanyi-nyanyi…

Lalu pernahkah kita membaca serta mentadaburi al-Qur’anul Karim?

Sementara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an.”
(HR. Al-Bukhari, no. 5027, Abu Dawud, no. 1452, At-Tirmidzi, no. 2909, dan Ibnu Majah, no. 211)

Berkata jujurlah wahai saudaraku yang saya muliakan karena Allah Ta’ala. Berapa ratusan atau bahkan ribuan lagu yang telah kita hafalkan?

Bandingkan dengan jumlah ayat dan surat al-Qur’anul Karim yang telah kita hafalkan?

Sebandingkah ia?

Sementara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Lebih baik dada seseorang dipenuhi nanah hingga menyesakkan paru-parunya daripada dipenuhi sya’ir-sya’ir (musik).”
(HR. Al-Bukhari, no. 6155, dan Muslim, no. 2257)

Nasihat :
Saudaraku yang saya cintai karena Allah Ta’ala.
Demi Allah saya berkata seperti ini bukan berarti saya tidak pernah berbuat dosa, bukan berarti pula saya orang yang lebih alim dari kalian…

Tidak, namun saya katakan seperti ini karena saya mencintai dan menyayangi kalian. Karena kalian adalah saudara saya sebagaimana saya adalah saudara kalian semua yang tidak menginginkan kesesatan terdapat pada diri saudaranya.

Terakhir, mari simak dan renungkan perkataan ulama kita yang shalih dari kalangan tabi’in.

Al-Imam Hasan Al Bashri rahimahullaahu ta’ala berkata,
“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna (tidak pernah berbuat dosa dan maksiat), niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat.”
(Mawai’zh lilImam, Al-Hasan Al-Bashri, hal.185)

Demi Allah membaca dan mentadaburi al-Qur’an jauh lebih baik dari sekedar mendengarkan dan memainkan alat-alat musik.

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallaahu ta’ala ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada para pembacanya. Bacalah dua bunga, yaitu surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua naungan atau keduanya seperti kelompok burung yang membentangkan sayapnya untuk membela pembacanya. Bacalah surat al-Baqarah, karena mengambilnya (membacanya) adalah kebaikan dan meninggalkannya adalah kerugian, dan juga tukang-tukang sihir tidak mampu menghadapi (mengalahkannya).”
(HR. Muslim, no. 804)

Gunakan waktu sehat dan waktu luang kalian dengan sebaik-baiknya sebelum dua waktu tersebut akan diganti dengan yang lebih buruk.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ta’ala ‘anhuma, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari dalam Shahiih-nya, kitabur Riqaq, no. 6412, at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Zuhud, no. 2304, Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Zuhud, no. 4170, Ahmad, I/258, 344, ad-Darimi, II/297, dan al-Hakim, IV/306)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Manfaatkanlah lima (keadaan dengan baik dan benar) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) :
1. Hidupmu sebelum matimu.
2. Sehatmu sebelum sakitmu.
3. Waktu luangmu sebelum waktu sempitmu.
4. Masa mudamu sebelum masa tuamu.
5. Dan kayamu sebelum miskinmu.”
(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, IV/341)

“Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang empat hal :
1. Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.
2. Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan.
3. Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.
4. Serta tentang badannya, untuk apa ia gunakan.”
(HR. at-Tirmidzi, no. 2417, ad-Daarimi, no. 537, dan Abu Ya’la, no. 7434, Ash-Shahiihah, no. 946)

Wallaahul Muwaffiq.

sumber: Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s