Waspadalah Selalu, Saudaraku!

Saudaraku, mungkin saat ini anda sedang berbadan kuat, berakal sehat, berharta melimpah dan merasa aman di tempat tinggal anda.

sistem keamanan di komplek perumahan dan juga rumah anda terpasang dengan rapih.

Namun sadarkah anda bahwa semua itu tidaklah ada artinya bila menghadapi pasukan Allah Azza wa Jalla. Continue reading

Benarkah Setiap Orang Yang Kekayaannya Melimpah Berarti Sukses?

Pernahkah anda melihat orang yang bergelimang dalam kekayaan dan kemewahan? Hartanya melimpah, rumahnya megah, kendaraannya mewah.
Anda terkagum-kagum, dan berharap untuk bisa menjadi kaya sepertinya.

Dan Mungkin anda juga tanpa pikir panjang segera menyimpulkan : dialah orang SUKSES.

Bukankah demikian sobat?
Namun benarkah setiap orang yg kekayaannya melimpah berarti sukses? Continue reading

Itulah Kehidupan….

Perumpamaan hidup didunia bagaikan seorang musafir dalam perjalanan
Kadang jalannya lurus, mulus, aman, indah dst.
Namun kadangkala jalan itu mendaki, sulit, berlobang, banyak bahaya yang menantang.
Kadang jalannya licin, becek, berlumpur, membuat kita terjatuh, tergelincir, bahkan membuat kendaraan kita macet dan rusak.
Namun perlu dimengerti tidak selamanya jalan itu lurus, kadang berbelok, tidak selama mendaki, kadang menurun.
Itulah kehidupan….

status Facebook Ustadz Ali Musri

Tolok Ukur Dalam Memilih

Saudaraku! Ketika anda sakit, biasanya anda pergi ke dokter untuk berobat. Anda menceritakan keluhan anda dan dokterpun membuat diagnosa penyakit dan dan pengobatannya.
Bila setelah menjalani pengobatan ternyata sakit anda sembuh, biasanya anda segera membuat satu kesimpulan bahwa dokter tersebut bagus, manjur, tepat dll.
Terlebih bila pengalaman ini terulang berkali-kali, bukankah demikian?
Namun sebaliknya bila penyakit anda membandel, dan pengobatan yang ia berikan tidak mendatangkan hasilnya, maka biasanya pula anda membuat kesimpulan bahwa dokternya kurang bagus, tidak manjur atau mungkin juga anda mengumpatnya.
Dan selanjutnya Anda segera mencari dokter lainnya yang lebih mahir.
Pendek kata anda akan berusaha selektif dalam memilih dokter bagi penyakit anda, agar anda tidak menyia2kan uang anda dan kesehatan anda terjaga serta tidak terancam.
Bila demikian sikap anda dengan dokter raga anda, apakah demikian juga sikap anda dengan dokter jiwa anda?
Sudahkah anda selektif dalam urusan agama dan penyakit jiwa anda?
Atau mungkinkah selama ini yang penting anda bertanya dan berguru kepada orang yang telah memikul gelar Pak Kyai, Ustadz, habib, LC, MA, Dr, atau Dai kondang, ulama’……dll?
Tidakkah anda sadari bahwa dokter jiwa anda juga penting bahkan lebih penting dari dokter raga anda?
Bila dalam urusan raga anda mewaspadai dokter gadungan, tentunya dalam urusan jiwa sepantasnya anda mewaspadi ulama’ gadungan, ustadz karbitan atau dai balonan…..
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْزِعُهُ مِنْ قُلُوبِ الرِّجَالِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُهُ بِقَبْض الْعُلَمَاءِ فَإِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسَأَلُوهُمْ فَأَفْتَوْهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sejatinya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan cara langsung mencabutnya dari dada-dada para ulama’, namun Allah mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama’ hingga bila telah tiba saatnya, tdk lagi tersisa seorangpun ulama’ maka masyarakat akan menobatkan orang-orang bodoh sebagai penutan mereka. Panutan-panutan bodoh tersebut ditanya lalu mereka menjawab dengan tanpa dasar ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan.

Bagaimana dengan diri anda selama ini, sudahkah anda selektif atau anda biasa silau dengan gelar, julukan, atau pengakuan?
Apa tolok ukur anda dalam memilih dokter jiwa anda?
Sekedar Gelar atau dalil dan bukti ucapannya?

disadur dari status Facebook Ustadz Muhammad Arifin Badri

ZINA ADALAH HUTANG, DAN TEBUSANNYA ADA PADA KELUARGAMU SENDIRI

Saudaraku! Tahukah anda mengapa orang tega menipu orang lain?
Atau mengapa ada orang yg tega memerkosa putri orang lain?
Atau mengapa ada orang tega mencuri harta orang lain?
Atau mengapa ada lelaki yg sampai hati menggoda istri orang lain?
Atau barang kali mengapa kadang kala anda juga tega mencuri pandang istri orang lain?
Sejatinya semua itu terjadi krn suatu alasan yg sederhana dan sepele sekali.
Anda ingin tahu?
Simaklah kisah berikut:
Suatu hari ada pemuda yg datang kepda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu ia berkata : Ya Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina.
Sepontan para sahabat menghardiknya.
Namun tdk demikian dng Rasulullah, beliau tenang, dan dng penuh kehangatan dan kasih sayang beliau meminta pemuda itu agar mendekat.
Setelah pemuda itu mendekat, beliau bertanya: apakah engkau rela bila perbuatan zina menimpa ibumu?
Tanpa pikir panjang pemuda itu menjawab: tentu tidak ya Rasulullah.
Rasulullah menimpali jawaban pemuda itu dengan bersabda: demikian pula orang tidak rela zina menimpa ibu2 mereka.
Kembali Rasulullah bertanya: apakah engkau rela bila zina menimpa putrimu.
Lagi2 pemuda itu berkata : tidak Ya Rasulullah.
Kembali Rasulullah menimpali jawaban pemuda itu dng berkata : demikian juga orang lain tdk rela bila zina menimpa putri2 mereka.
Kembali beliau bertanya : relakah engkau bila zina menimpa saudarimu?
Kembali pemuda itu menjawab : tidak ya Rasulullah.
Beliau menimpali lagi: demikian juga orang lain tdk rela bila zina menimpa saudari2 mereka.
Sekali lagi beliau bertanya : apakah engkau rela bila zina menimpa bibikmu?
Pemuda itupun kembali menjawab : tidak Ya Rasulullah.
Tak hentinya Rasulullah menimpali jawabannya dengan bersabda: demikian juga orang lain tdk rela bl zina menimpa bibik2 mereka.
Selanjutnya Beliau mengusap dada pemuda itu dan berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
Ya Allah ampunilah dosa pemuda ini, sucikan jiwanya dan bentengilah kemaluannya. ( ahmad dll)
EGO, SEMAU GUE, itulah biangnya.
Andai anda berpikir ulang sebelum memandangi istri orang lain dan berkata: bagaimana perasaanku bila menyaksikan ada lelaki lain yg dng penuh nafsu memandangi istriku ?
Saudaraku, dahulu orang bijak berpetuah : ZINA ADALAH HUTANG, DAN TEBUSANNYA ADA PADA KELUARGAMU SENDIRI.

disadur dari status Facebook Ustadz Muhammad Arifin Badri