Begitulah Hidup Kita….

Kemarin menjenguk, sekarang dijenguk.

kemarin membantu, sekarang dibantu.

kemarin mengantar ke kubur, nanti akan ada masanya kita akan diantar ke kubur.

Begitulah hidup kita….

sumber : Aang Yulius Prihatmoko

Islam Bukan Agama Pribadi – Ust. Arifin Badri

Berikut ini Rekaman Kajian Islam dengan Tema “Islam Bukan Agama Pribadi” oleh Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, MA, dosen STDI Imam Syafi’i Jember, yang diselenggarakan pada hari Ahad, 4 Muharram 1434 H / 18 November 2012 M di masjid Mush’ab bin Umair, Jl. A. Yani, gang Lap. Perintis Badean, Bondowoso, Jawa Timur.

Kajian bisa didownload disini

  1. Materi Kajian – Islam Bukan Agama Pribadi
  2. Tanya Jawab – Islam Bukan Agama Pribadi

Semoga bermanfaat

Keutamaan Para Sahabat Nabi

Sahabat seakidah, para pemuda muslim yang dirahmati Allāh. Sebagaimana kita yakini bersama, bahwa umat terbaik setelah Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah para sahabatnya. Inilah yang wajib untuk kita tanamkan di dalam hati kita; yaitu penghormatan, kecintaan dan pemuliaan kepada mereka. Orang-orang yang berjasa besar terhadap umat ini dengan menyampaikan risalah Islam dari tangan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam kepada segenap umat manusia.

Allāh ta’ālā berfirman (yang artinya),

“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirindan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allāh meridhai mereka, dan mereka pun meridhai-Nya. Allāh sediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu’anhu, suatu ketika Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,

“Siapakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?”.

Abu Bakar raḍiyallāhu’anhu menjawab, “Saya.”

Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah memberi makan orang miskin?”.

Abu Bakar raḍiyallāhu’anhu menjawab, “Saya.”

Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit?”

Abu Bakar raḍiyallāhu’anhu kembali menjawab, “Saya.”

Maka Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah itu semua terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)

Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu’anhu, suatu ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman naik di atas gunung Uhud, tiba-tiba gunung itu bergetar (terjadi gempa). Beliau pun bersabda,

“Tenanglah wahai Uhud. Sesungguhnya yang di atasmu ini adalah seorang Nabi, seorang yang Shiddiq/jujur, dan dua orang yang akan mati Syahid.” (HR. Bukhari no. 3675)

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari bapaknya, dia berkata,

“Suatu saat datang seorang perempuan menemui Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka, beliau memerintahkannya untuk kembali lagi menemuinya. Perempuan itu berkata, “Bagaimana jika nanti saya datang dan tidak bertemu dengan anda -seolah-olah perempuan itu bermaksud kematiannya-?”. Maka beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu tidak menemuiku, temuilah Abu Bakar.” (HR. Bukhari no. 3659)

Abdullah bin ‘Umar raḍiyallāhu’anhu’anhumā berkata,

“Dahulu di masa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami memilih-milih siapakah orang yang terbaik. Maka menurut kami yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan. Semoga Allāh meridhai mereka semuanya.” (HR. Bukhari no. 3655)

Dari Abu Sa’id al-Khudri raḍiyallāhu’anhu, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

Dari Abu Musa al-Asy’ari raḍiyallāhu’anhu, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim no. 2531)

Putra Ali bin Abi Thalib raḍiyallāhu’anhu yang bernama Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya,

“Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam?”

Beliau menjawab, “Abu Bakar.”

Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”

Beliau menjawab, “’Umar.” Dan aku khawatir jika beliau mengatakan bahwa ‘Utsman adalah sesudahnya. Maka, aku katakan, “Lalu anda?”

Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3671)

Umar bin Khaththab raḍiyallāhu’anhu pernah berkata,

Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.” (lihat as-Sunnah, sanadnya hasan, lihat as-Sunnah li Abdillah ibni Ahmad ibni Hanbal, Jilid 1 hal. 378)

Ibnu ‘Umar raḍiyallāhu’anhuma berkata,

“Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad. Sungguh kebersamaan dan duduknya mereka -bersama Nabi- itu walaupun hanya sesaat jauh lebih baik daripada amalan salah seorang dari kalian seumur hidupnya.” (lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 180)

Imam asy-Syafi’i raḥimahullāh pernah mengatakan,

“Orang yang paling utama setelah Rasul ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Semoga Allāh meridhai mereka.” (lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 112)

Imam Ahmad bin Hanbal raḥimahullāh berkata,

“Termasuk Sunnah adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh para Sahabat Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang diantara mereka maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.” (lihat Qathful Jana ad-Daani, hal. 162)

Imam Abu Zur’ah ar-Razi raḥimahullāh mengatakan,

Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur`ān yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161).

 

artikel: www.pemudamuslim.com

Hendaklah Orang Tua Selalu Mendoakan Kebaikan Untuk Anak-Anaknya

Simaklah kisah berikut…
Seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah.Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!” Dan SubhanAllah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram…!! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…??
Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.
=
Ini adalah teladan bagi para ibu,calon ibu, ataupun orang tua…hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.
“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri,begitupun untuk anak-anakmu,pembantumu, juga hartamu.Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…”(HR. Abu Dawud)
#Inspirasi : Khabar Biladi al-jazaair/ar-risalah ed.131

Twit Ulama oleh @dr_alshoreka

Hati-hati dari pelit terhadap ilmu, Ibnul Mubaarok berkata, “Siapa yang pelit dengan ilmunya, dia akan diuji dengan 3 perkara (1) Boleh jadi dia mati, sehingga hilanglah ilmunya, (2) atau dia lupa dengan ilmu tersebut, (3) atau dia menjadi orang berilmu yang menjilat penguasa.

@dr_alshoreka – Dr. Abdullah Al Syurikah, Imam dan Khatib Masjid Ad Duwailah, Kuwait.

Tergesa-Gesa dalam Berdoa

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل يقول دعوت فلم يستجب ل

Do’a masing-masing kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, “Saya sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.”
(H.R. Bukhari)

Pada umumnya, setiap orang yang memiliki permasalahan, ia akan memanjatkan doa kepada Allāh. Ada yang doanya rutin, ada pula yang hanya berdoa ketika masalah datang menjepitnya semata. Dalam kondisi terjepit, ia baru berdoa dan tergesa-gesa ingin agar doanya segera dikabulkan. Sebagaimana disinggung dalam hadits di atas, bentuk ketergesa-gesaan dalam berdoa adalah dengan mengatakan, “Saya sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” Padahal, sikap tergesa-gesa seperti ini, justru membuat doanya bisa tidak dikabulkan.

Berdoa kepada Allah membutuhkan kekhusyukan hati, sedangkan kekhusyukan tidak bisa digapai dengan sifat ketergesa-gesaan. Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال يستجاب للعبد ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم ما لم يستعجل قيل يا رسول الله ما الاستعجال ؟ قال يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء

Doa seorang hamba akan senantiasa terkabul selama ia tidak berdoa untuk kemaksiatan, atau untuk memutus silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa.

Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullāh, bagaimanakah bentuk ketergesa-gesaan yang dimaksud?

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hamba tadi berkata, “Aku telah berdoa. Sungguh, aku telah berdoa. Namun, Allāh belum juga mengabulkan doaku.”

Ia merasa jenuh dan letih, lalu akhirnya meninggalkan doa.

Dalam Musnad Amad, dari Anas raḍiyallāhu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَسْتَعْجِلُ قَالَ « يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّى فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِى

“Seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ia tidak tergesa-gesa.

Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullāh, bagaimana bentuk ketergesa-gesaannya?

Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hamba tersebut mengatakan, “Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, tetapi dia belum mengabulkan permohonanku.”

Akhirnya, Semoga tulisan ringkas ini bisa menjadi nasehat, dan semoga kita semua diberikan kekhusyukan hati dalam berdoa kepada Allāh ta’ālā.

disadur dari artikel pemuda muslim